Menanti Fatamorgana

Waktu terus berjalan sesuai dengan alurnya, semua sudah melakukan tugasnya yang malam trus berganti siang, yang siang memanggil malam untuk menggantikanya, disaat yang bersamaan datanglah Aya, entah darimana datangnya gadis ini tapi sedikit merusak suasanaku.

“halo, siang……

begitu dia menyapa diiringi senyum kecilnya. O ya, Aya ternyata pernah menjadi salah satu bagian dari kluarga ini hanya saja tugas nya disini sudah selesai dan sekarang harus ditugaskan diluar kota, Aya ini sudah lama merantau jauh dari kluarganya meskipun demikian dia tidak pernah lupa untuk kembali menyapa kluarga yang pernah dia singgahi sebelumnya ini, sebagai seorang wanita Aya orang yang humble mudah bergaul dengan siapa saja, hanya saja kadang kekhawatiran muncul dari teman dan kluarganya, bagaimana tidak sebagai seorang gadis yang mulai tumbuh dewasa, dia harus mengemban tugas untuk terus keliling dari kota ke kota lainya. Hal ini  lah yang membedakan Aya dengan gadis lainya. Sikap mandiri dan keberanianya untuk mengambil resiko berpetualang mengarungi dunia kerja membuatnya belajar dewasa.

Terlalu panjang membahas Aya sampai lupa memperkenalkan diri, perkenalkan nama saya Haidar Parsa dan biasa dipanggil Ara, saya baru juga tinggal dalam kluarga ini, ya kluarga Wahid Hasan telah menerima saya, sebelumnya saya banyak menempa hidup jauh di Ibukota, kota yang katanya banyak perjuangan jika harus tinggal disana. Sekarang adalah petualangan baru saya dimana saya akan banyak belajar dikota kecil yang banyak ditinggalkan oleh warganya. akan menjadi petualangan dan pengalaman baru ketika saya mulai beradaptasi dengan kota Pandanaran ini.

“mbak jam berapa dari Solo?” Tanya bu wahid saat menyambut kedatanganya…

“Jam 2 bu,” Jawab Aya

“tumben masih tanggal 6 kamu sudah berkunjung kemari? biasanya mendekati akhir bulan kamu baru sempat main kesini?” Tanya bu Wahid

“Iya bu, Aya kangen dengan suasana disini, disini tempatnya adem” jawab Aya diselingi senyum kecil merekah dari bibirnya

“Itu siapa bu? lelaki yang duduk diujung lorong?” Kata Aya penuh tanya

“O, itu Ara, Haidar Parsa nama lengkapnya, dia baru disini dan dia akan membantu bapak disini.”

Setelah pembicaraan singkat diluar akhirnya mereka masuk kedalam, entah apa yang sedang mereka bahas, mungkin mereka bercengkerama melepas rindu. Sedangkan aku melanjutkan apa yang harus aku selesaikan, namun dalam pikiran ini terlintas penuh tanya siapa gerangan Aya, baru saja bertemu namun sudah mengelayuti pikiranku. Ah, sudahlah pikirku, mungkin ini hanya sebatas kekagumanku pertama melihatnya. Hal yang sangat lumrah ketika aku melihat gadis manis dengan senyum merekah melintas dihadapanku. Namun tak hanya sampai disitu, waktu terus berjalan ternyata senyum Aya terus membayangiku, semakin besar rasa keingintahuanku terhadapnya, namun apa daya mungkin belum waktunya aku mengenalnya.

Hari terus berganti bulan pun terus berganti, Aya rutin mengunjungi kluarga ini namun aku coba menepis rasa penasaranku, namun pada akhirnya rasa penasaranku mulai terjawab,

“Mas Ara, saku minta tolong bisa?” tanya pak Wahid

“Iya pak, bisa” Jawabku

“Kantor kehabisan barang, sedangkan kantor wilayah tidak bisa datang kirim barang karena ada kendala kendaraan, Mas Ara bisa bantu saya ambil barang dikantor wilayah?”

“Bisa pak” Jawabku

“Semua barang yang harus diambil sudah saya tulis pada kertas ini, nanti Mas Ara tinggal menyerahkan saja kepada petugas disana dan mereka akan menyiapkan.”

“Baik pak, klo begitu saya langsung jalan saja pak”

“hati-hati mas klo begitu, maaf sudah merepotkan”

“gak papa pak, kan memang tugas saya membantu bapak disini” jawabku sambil berlalu meninggalkan pak Wahid untuk segera berangkat ke kantor wilayah.

Setibanya aku dikantor wilayah, aku bertemu dengan Aya meskipun hanya sekedar papasan tapi kaget aku dibuatnya. Rasa penasaranku perlahan mulai terjawab, jadi tugas Aya ternyata di kanwil tempat aku bekerja. Senyum kecil saja yang ia lemparkan kepadaku saat berpapasan tadi, Ah kenapa harus bertemu disini pikirku, lebih baik aku segera ambil barang yang sudah diamanahkan oleh Pak Wahid. Akhirnya aku bergegas ke Gudang untuk ambil barang.

***

Hari – hariku berjalan seperti biasa, aku tetap bekerja normal sesuai tugasku, aku selalu mencoba menepis pikiran tentang Aya, meskipun pada kenyataanya mulai muncul benih – benih rindu yang menghantuiku. Namun, sudah beberapa bulan ini aku tak melihat lagi Aya datang untuk megunjungi kota kecil ini, tapi sudahlah mungkin aku terlalu dramatis harus terus memikirkan Aya, orang yang belum aku kenal dan kita berjumpa hanya melempar senyuman. Aku menjalankan tugasku seperti biasa bahkan ketika dimintai tolong pak Wahid untuk ambil barang ke kantor wilayah juga aku kerjakan namun semakin timbul pertanyaan dibenakku, Aya yang dulu rutin ke kota Pandanaran sudah lama ia tidak kesana, begitupun di kantor kanwil yang biasanya aku melihatnya, tapi beberapa kali kunjunaganku kesini aku juga tidak mendapatinya. Malu rasanya ingin tahu, namun rindu ini terus menggebu. Aku hanya bisa menerka dimana gerangan Aya sekarang.

 “Mbak Aya ternyata sekarang tugas di Kantor pusat lho” terdengar sayup-sayup suara bu Wahid lagi ngobrol sama bu Reni partner kerja kantornya

“Wah bakalan gak ketemu lagi ini,  semakin berat saja rasa rinduku ini” pikirku

Perlahan tapi nyata jawaban dari pertanyaanku beberapa bulan ini terjawab sudah, ternyata mbak Aya ditugaskan ke kantor pusat, kecewa iya tapi mau gimana lagi mba  Aya harus memenuhi kewajibanya untuk ditarik ke kantor pusat. 

Aku kembali menjalani hari – hariku seperti biasa,  menjalankan rutinitas yang biasa aku kerjakan, hingga pada akhirnya tiba juga giliranku,  aku sekarang yang harus mengemban amanah perusahaan dan harus meninggalkan kota Pandandanaran untuk selanjutnya berlabuh ke kota Gandul. 

Petualangan baru dimulai disini,  aku mengemban tugas baru, tugas yang lebih berat tentunya dibandingkan ditempat sebelumnya ketika aku hanya sekedar membantu pak Wahid disana.  Harus aku akui mungkin bukan yang pertama aku diposisi ini namun untuk tugas yang aku ban ini adalah pengalaman baru bagiku,  semua mendukungku,  semua punya harapan lebih terhadapku,  sampai – sampai seluruh jajaran mendukung apa yanh ingin aku kerjakan,  disini aku gak sendiri aku banyak ditopang pula oleh rekan yang lain hanya saja aku terheran ketika diperkenalkan dengan partner kerjaku, perasan ini semakin campur aduk gak tau harus gugup,  seneng,  sedih,  kaget,  semua campur aduk jadi satu. 

“perkenalkan nama saya Hafeeza Najya,  dan biasa lebih gampangnya panggil saja saya Aya”, ucapnya membuka sambutan pada meeting perdana dia kembali ke kanwil ini,  

“O,  jadi namanya Hafeeza Najya” ucapku dalam hati